Deepavali Jadi Hari Raya Fakultatif di Indonesia

Mengikut tribunnews.com, Deepavali Jadi Hari Raya Fakultatif di Indonesia, hal ini dtetapkan oleh Kementerian Agama Indonesia. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menghadiri perayaan Deepavali 5119 Kaliyuga yang diselenggarakan Gema Sadhana di Grand Sahid Jaya, Jakarta Selatan, Sabtu (2/12/2017). Ia mengucapkan selamat bagi penganut Hindu, khususnya dari India yang hari rayanya kini dijadikan hari raya fakultatif di Indonesia. "Dijadikannya Deepavali sebagai hari raya fakultatif adalah bukti nyata bahwa negara memberi pelayanan yang sama pada semua umat beragama," ujar Lukman, Sabtu malam. Menurut Lukman, pengakuan terhadap hari raya ini pantas dilakukan mengingat suku India sudah ratusan tahun bermukim di Indonesia dan menjadi bagian dari peradaban bangsa. Lukman juga mengapresiasi Gema Sadhana, sayap Partai Gerindra mengangkat tema "Kita Indonesia, Indonesia Adalah Kita" pada Deepawali 2017 ini.

Penganut Agama Leluhur: Sakitnya Kami Selalu Diperlakukan Beda...

Upacara Parmalim Sipaha Lima, Hutatinggi (Sumber foto: medanbisnisdaily.com)
Rosni Simarmata (40), warga Jalan Binjai Km 7,5 Pasar I Gang Karya, Kelurahan Cintadamai, Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan, adalah pribadi yang ramah dan periang. Dia selalu tertawa setiap kali bercerita. Namun, saat diajak bercerita soal keyakinannya memeluk agama leluhurnya, Ugamo Bangso Batak, perempuan berambut panjang itu merendahkan suaranya.

Relief Gandawyuha dari Borobudur Bukti Sejarah Tua Toleransi di Nusantara

Sejarah peradaban bangsa Indonesia telah ada sejak ribuan tahun lalu. Bukti kebesaran nenek moyang bangsa Indonesia saat ini salah satunya adalah Mandala Agung Borobudur. Bukan hanya mengagumkan secara bentuk bangunan, pahatan batu dan arsitektur candi, tetapi banyak nilai yang terkandung di dalamnya yang menunjukkan kebesaran budaya Nusantara. Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) keenam tahun ini mengangkat tema “Gandawyuha dan Pencarian Religiusitas Agama-agama Nusantara”.

Seorang wanita Italia, Laura Romano: Penghayat Kebatinan Sumarah

Sumarah merupakan sebuah cara pandang hidup serta laku hidup yang berangkat dari laku meditasi yang berasal dari Jawa. Laku hidup yang mengembangkan sebuah kepekaan mendalam, hati, tubuh, maupun kesadaran. Sumarah, ialah kepasrahan yang utuh. Selaras dengan alam semesta, semesta di luar maupun semesta di dalam diri.

Pembentukan Kelompok Yoga dan Pura Tanpa Asap Rokok

Badan Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menyelenggarakan Orientasi dan Fasilitasi Penggerakan Kelompok Masyarakat Binaan di wilayah se-Jabodetabek di Sahati Hotel Jakarta Selatan, 4 November 2017, seperti diwartakan dari laman phdi.or.id. Kegiatan Orientasi dan Fasilitasi Penggerakan Kelompok Masyarakat Binaan merupakan tindak lanjut kerjasama antara PHDI dengan Kementerian Kesehatan RI tahun 2017. Ada dua program yang digalakan dalam kegiatan Orientasi dan Fasilitasi Penggerakan Kelompok Masyarakat Binaan yaitu pertama Pembentukan Kelompok (Komunitas) Yoga di Pura serta Pasraman dan kedua Kawasan Pura Tanpa Asap Rokok (PUTAR).

Penghayat kepercayaan di Gunungkidul Sudah Diakui Sebelum Putusan MK

Kelompok penghayat kepercayaan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta harus berjuang berat untuk mendapat haknya. Namun, mereka sudah menikmati pelayanan administrasi sebelum putusan Mahkamah Konstitusi keluar. Ketua Dewan Kebudayaan Gunungkidul CB Supriyanto mengatakan, setidaknya ada 10 kelompok penghayat kepercayaan di Kabupaten Gunungkidul. Sejumlah di antaranya Sapto Darmo, Pranco, Mardi Santosaning Budi, Hidup Betul, Sumarah, Palang Putih Nusantra, Ngethi Kasampurnan, dan Pransuh (Kelompok-kelompok aliran Kejawen. - Catatan dari Dr. Igor Popov, LLM).

MUI akan Bentuk Akademi Dakwah

Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menutup kegiatan Halaqah Dakwah Nasional di Jakarta pada Selasa (14/11) malam. Ketua Komisi Dakwah MUI, KH Cholil Nafis mengatakan bahwa dalam halaqah ini telah dirumuskan Program Akademi Dakwah untuk memberikan standarisasi kepada para dai di Indonesia.