Mendagri Tegaskan Hanya 6 Agama yang Bisa Masuk KTP-el

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menegaskan kolom agama di KTP-el hanya boleh diisi enam agama yang diakui Undang-Undang. Keenam agama itu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu.
"Bagi pemerintah pada saat itu saya sampaikan, yang prinsip enam agama sesuai Undang-undang itu harus masuk. Di kolom itu kan agama, kepercayaan itu kan bukan agama," kata Tjahjo di Jakarta Pusat, Senin 24 Juli 2017, dilansir metrotvnews.com. Tjahjo memberi solusi bagi anggota Ahmadiyah di Manislor, Kuningan, Jawa Barat yang tak mendapat KTP-el lantaran kepercayaannya. Dia menyarankan supaya kolom agama tidak diisi. "Saya dulu kan sudah sepakat, Majelis Ulama sepakat, Depag (Kemenag), tokoh agama sepakat, oke dikosongin, tapi di bukunya (data Disdukcapil) ada. Tapi mereka tidak mau," imbuh dia. Tjahjo menyebut, kasus serupa tidak hanya terjadi di Kuningan, tetapi banyak di Indonesia termasuk Bangka Belitung dan Madura. "Ada Sunda Wiwitan, ada beberapa lah, puluhan termasuk Ahmadiyah," beber dia. Terkait anggapan anggota Ahmadiyah yang mengklaim kepercayaan mereka sebagai bagian agama Islam, sehingga kolom agamanya boleh diisi Tjahjo punya pendapat lain. "Kalau bagian-bagian ya repot dong, yang Islami saja tidak mengakui," tandas dia. Ribuan anggota jemaah Ahmadiyah di Manislor tidak memiliki KTP-el selama lima tahun terakhir. Disdukcapil mensyaratkan pengambilan KTP-el harus disertai surat pernyataan mengucapkan kalimat syahadat dan bersedia dibina. Hal ini dianggap anggota Ahmadiyah sebagai bentuk intimidasi dan melanggar peraturan.

Panitia Dialog Islam Khonghucu dan Kongres Agama Khonghucu Dunia diterima oleh Menag

Panitia Dialog Islam Khonghucu dan Kongres Agama Khonghucu Dunia di dampingi oleh Ketua Umum Matakin, Drs. Uung Sendana L. Linggaraja, S.H., diterima oleh Menteri Agama RI, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, yang didampingi Kapus Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu Kemenag RI, Kamis, 20 Juli 2017 di ruang Menteri Agama, Lapangan Banteng Jakarta. Perwakilan Panitia Dialog Islam Khonghucu dan Kongres Agama Khonghucu Dunia yang hadir, K Ws. Ir. Budi S. Tanuwibowo M.M (Ketua Panitia), Ws. Ir. Wawan Wiratma dan Js. Liem Liliany Lontoh. Seperti diwartakan matakin.or.id, dialog Islam Khonghucu rencananya akan dilaksanakan di Jakarta pada tgl. 16 Oktober 2017/27-8-2568 Kongzili, dilanjutkan dengan Kongres Agama Khonghucu Dunia pada tanggal 17-18 Oktober 2017.

AYD 2017: Keuskupan Malang Siap Tamu dari Mongolia, Vietnam, Singapura, dan Lainnya

Gelaran AYD 2017 sebentar lagi akan dilaksanakan di Indonesia dengan mengambil tempat di Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. AYD akan berlangsung mulai 30 Juli s.d 6 Agustus 2017, namun sebelumnya para kontingen akan menikmati Day in Dioces (DID) pada 29 Juli s.d 1 Agustus 2017, kabarnya sesawi.net. Keuskupan Malang termasuk salah satu yang menyambut kontingen dalam DID dari antara 11 Keuskupan. Ada sembilan paroki di Keuskupan Malang yang akan ditempati kontingen AYD yakni: Paroki Katedral, Paroki Kayutangan, Paroki Lely, Paroki Blimbing, Paroki Ksatrian, Paroki Janti, Paroki Langsep, Paroki Tidar dan Paroki Batu. Masing-masing paroki sudah sejak bulan Mei 2017 telah menawari  keluarga-keluarga katolik yang memiliki orang muda katolik (OMK) untuk berkenan menerima tamu-tamu ini. Keuskupan Malang akan menerima kontingen dari negara:  Mongolia, Vietnam, dan Singapura serta dari Keuskupan Atambua, Keuskupan Kupang dan Keuskupan Malang sendiri, dengan jumlah tamu luar negeri 77 orang, dalam negeri 104 orang sehingga total 181 orang.

Perawan Maria hingga Baby Ingin Masuk Islam, Feby Indirani Rilis Kumcer

Penulis Feby Indirani baru saja menerbitkan karya terbaru yang termuat dalam bentuk buku kumpulan cerita. Diterbitkan oleh Pabrikultur, sebanyak 19 cerita berhasil ditulisnya dengan menggelitik dan penuh kocak. Ada kisah seekor babi bernama Baby yang bercita-cita ingin masuk agama Islam. Ada juga Maria yang hamil tanpa disetubuhi oleh pria. Serta cerita tentang seorang warga yang merencanakan ingin membunuh muazin.

Warga Ahmadiyah di Manislor Kuningan Keluhkan Sulitnya Dapat KTP

Warga Manislor, Kuningan, Jawa Barat (Jabar) yang mengaku tergabung dalam Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengeluhkan tentang masalah KTP. Mereka mengaku tidak mendapatkan KTP dalam beberapa tahun terakhir. "Masalah e-KTP ini kita sudah cukup lama, dari tahun 2015 sampai sekarang memperjuangkan, bagaimana hak-hak warga negara kami di Manislor ini. Tapi sebelum itu yang perlu kita garisbawahi bahwa kami di sini dari Jamaah Ahmadiyah, poinnya adalah bahwa kami di sini duduk lebih kepada memfasilitasi, mendampingi hak-hak daripada warga negara," ujar juru bicara JAI Yendra Budiandra

Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai komunitas dengan anggota pendonor kornea mata terbanyak

Tercatatnya Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai komunitas dengan anggota pendonor kornea mata terbanyak secara berkesinambungan oleh Museum Rekor Indonesia mendapat perhatian khusus tidak hanya dari tokoh agama dan intelektual, namun juga warganet, dilansir di warta-ahmadiyah.org. Lewat  akun twitternya, tokoh muda Nahdlatul Ulama, Zuhairi Misrawi memposting foto saat Amir Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Mln. Abdul Basith, Shd menerima piagam penghargaan dari Pendiri Museum Rekor Indonesia, Jaya Suprana. Tidak hanya itu, dalam sambutannya di Gedung Baiturahmat, Jakarta Pusat,  Sabtu (22/7), pria yang akrab disapa Gus Mis ini menilai langkah yang diambil Jemaat Ahmadiyah Indonesia ini harus mendapat apresiasi dari pemerintah pusat, dalam hal ini kementrian kesehatan. “Kementrian kesehatan harusnya mensosialisasikan penghargaan yang diraih jemaat Ahmadiyah ini ke daerah-daerah lewat dinas terkait. Ini juga simbol perwujudan Pancasila dan kemanusiaan,” ujarnya. Sementara itu Jemaat Ahmadiyah Indonesia lewat siaran persnya, merilis sebanyak  6.800 orang anggotanya telah tercatat sebagai calon donor mata di Bank Mata dan menargetkan tahun ini terus cepat mencapai 10.000 ribu orang calon donor mata.

Putri Keraton Surakarta Beralih Jadi Pemeluk Hindu


Upacara Sudhi Wadani untuk prosesi ritual beralih ke agama Hindu ini telah dijalani KRA Mahindrani di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari, Desa Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara pada Soma Pon Ugu, Senin (17/7). Upacara Sudhi Wadani untuk KRA Mahindrani di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari, Senin kemarin, dipuput oleh Sari Galur Wiku Ratu Cri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, sulinggih dari Kedhatuwan Kawista Bali, Desa Blatungan, Kecamatan Pupuan,Tabanan. Prosesi tersebut dihadiri pula AA Gede Agung Bagus Suteja, Raja dari Puri Agung Jembrana selaku Ketua Paiketan Puri-puri Sejebag Bali. Prosesi ritual yang dijalani putri Keraton Surakarta ini, antara lain, Sudhi Wadani, Wisuda Wangsa, Pawintenan, Mapuja, Gita Puja, dan Doa Bersama. Dipilihnya Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari sebagai lokasi upacara Sudhi Wadani untuk KRA Mahindrani, karena melihat dari kondisi dan tata letak pura yang unik. Dari namanya yang terkandung yakni Kanda Pat, diyakini pura ini sesuai dengan kebudayan Hindu Jawa dan Sunda Wiwitan.
 Sebelum secara sah menjadi pemeluk Hindu, KRA Mahindrani lebih dulu dituntun Sari Galur Wiku Ratu Cri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun untuk mengucapkan beberapa kutipan mantra, yang disebut dengan sumpah. Ada pun mantra yang diucapkan adalah ‘Om narayana nerwedam sarwam yad bhutam yad ca bahweam, niskalan ko neranjana nerwekalpo, nirakyata sudha dewa eko, narayana na dwityo asti kascit’. Dilanjutkan dengan permohonan kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa yakni ‘Om Hyang Widi, di hadapanmu aku berjanji bahwa engkau adalah sumber dari segala sumber kehidupan’ KRA Mahindrani merupakan salah satu trah Keraton Surakarta yang lahir di Roma, Italia. Dia merupakan seorang musisi---menekuni seni musik. Ketertarikannya pada agama Hindu, dilandasi adanya kemiripan kebudayaan Hindu Bali dengan kebiasaan yang dilakukannya selama di Jawa, yakni ajaran Kejawen. "Saya sering melaksanakan ritual tirta yatra (perjalanan suci) ke pura-pura yang ada di Bali mapun luar Bali," tutur perempuan berusia 56 tahun ini. KRA Mahindrani mengisahkan, lama-kelamaan dia merasa nyaman dan menemukan kedamaian setelah melakukan rajin melakukan tirta yatra. Secara sadar, dia merasakan diri lebih condong melakukan kebiasaan umat Hindu tinimbang Islam. Itu sebabnya, dia kemudian memutuskan untuk memilih jalan dharma. Panggilan masuk Hindu semakin kuat setelah KRA Mahindrani tinggal di Puri Anyar Pemecutan, Denpasar tahun 2013 silam. "Saya sebenarnya sudah lama melakukan aktivitas-aktivitas seperti tirta yadnya dan kegiatan Hindu lainnya. Hanya saja, baru diresmikan dengan upacara Sudhi Wadani hari ini (kemarin). Saya masuk Hindu tanpa paksaan, melainkan atas kemauan sendiri," tegas KRA Mahindrani. Setelah resmi menjadi umat Hindu, ke depan KRA Mahindrani berencana membangun Pasraman Hindu di kawaswan Tabanan. “Hal ini sebagai bentuk keseriusan saya untuk masuk agama Handu. Selain itu, niat yang kuat serta dukungan dari keluarga yang membuat tekad saya bulat dan serius untuk menganut agama Hindu dan kembali ke jalan dharma,” katanya.
Sumber: nusabali.com