Retret tahunan para Suster Dominikan

Perjumpaan Rasul Thomas dengan Yesus yang terluka membawa perubahan. Kehadiran Thomas mewakili para suster Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia atau Ordo Pewarta (OP) yang datang menjalankan retret dengan membawa berbagai pengalaman dan persoalan hidup, di antaranya pengalaman terluka yang hanya bisa tersembuhkan bila percaya kepada kuasa Yesus yang terluka. Seperti dilansir penakatolik.com, dalam retret tahunan para suster OP gelombang kedua di Yogyakarta, 3-9 Juli 2017, bertema ”Perutusan Pewarta Sukacita Injil,” mereka kembali diajak berefleksi apakah mereka menjadi pewarta sukacita dengan semangat melayani Tuhan (Do we share our own joy and enthusiasm in serving the Lord?).
 Gereja kini terancam karena kurang gerak untuk menemukan cara baru dalam pewartaan. “Gereja Katolik nyaris tidak terdengar, karena kurang menyapa dan menjumpai orang lemah dan hanya berkutat di sekitar altar,” kata Pastor Kris yang mengingatkan bahwa kaum religius menjadi kekuatan dan ujung tombak keberadaan Gereja dan tanpa mereka Gereja hampa dan tidak bergema.

90 Tahun Huria Kristen Indonesia, Gereja Pertama Pelopor Kemandirian

(Foto dari www.tengkuerrynuradi.com)
Hanya dalam hitungan hari, Huria Kristen Indonesia (HKI) telah merayakan pesta Jubelium ke 90 Tahun, yang diselenggarakan pada Sabtu 8 Juli hingga puncak acara Minggu 9 Juli 2017, di Lapangan Horbo, Jalan Farel Pasaribu Kota Siantar. Perayaan Jubelium HKI ini, merupakan renungan akan perbuatan Tuhan selama 90 Tahun kepada jemaat HKI, serta ungkapan rasa suka cita dan mengucap syukur kepada Tuhan. Berdasarkan laman hetanews.com, Ephorus HKI, Pdt M Pahala Hutabarat kata, HKI bersama - sama dengan pemerintah tetap berkomitmen memerangai isu radikalisme, terorisme dan narkoba. Selain itu, HKI juga mendukung program Presiden Jokowi untuk pengembangan dan pelestarian Danau Toba, seperti Badan Otorita Danau Toba (BODT)

Mgr Leteng tak hendaki imam tertahbis undur diri dari jabatan karena bukan pekerja sosial

Aksi protes sekelompok imam 12 Juni 2017 yang menyatakan pengunduran diri dari jabatan sebagai vikaris episkopal dan kepala paroki, dijawab oleh Uskup Ruteng Mgr Hubertus Leteng kepada Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI Pastor Kamilus Pantus Pr lewat WA tanggal 14 Juni 2017, diwartakan penakatolik.com, dengan mengatakan, “Sebagai Uskup, saya tidak menghendaki mereka mengundurkan diri dari jabatan karena mereka adalah orang yang t.” Jika mereka mengundurkan diri, lanjut Mgr Hubertus Leteng, seperti yang dilaporkan Pastor Kamilus Pantus dalam web KWI www.mirifica.net, 14 Juni 2017, hal itu akan sangat merugikan umat Allah yang membutuhkan pelayanan para imam. “Tapi jika mereka mati-matian mau mengundurkan diri, maka saya berharap mereka telah mempertimbangkan hal itu secara bertanggungjawab di hadapan Tuhan.”

Empat Suster Biarawati SFIC Ucapkan Triprasetya Kekal di Pontianak

EMPAT orang suster biarawati SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) pada tanggal 15 Juni 2017 lalu mengucapkan triprasetya kekalnya di Gereja Katedral St. Yoseph Pontianak, dilaporkan dalam laman sesawi.net. Sumpah setia kekal di dalam tarekat religius para Suster-suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah dilaksanakan dalam sebuah perayaan ekaristi. Misa sederhana ini dipimpin oleh Bapak Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus selaku selebran utama bersama sejumlah imam lainnya. Sumpah setia kekal ini diucapkan di hadapan pemimpin umum (provincial) SFIC yakni Sr. Irene SFIC yang didampingi anggota dewan pimpinan.Keempat suster biarawati SFIC yang mengucapkan triprasetya kekalnya di hadapan Pemimpin Umum SFIC dan Bapak Uskup Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus pertengahan bulan Juni 2017 lalu adalah:
Sr. Franciska Fitria SFIC.
Sr. Maria Seba SFIC.
Sr. Katarina Samini SFIC.
Sr. Lina Andriani SFIC.

PEMBANGUNAN ALTAR BUDDHA di VIHARA SAMYAG DARSANA BULELENG

Vihara Samyag Darsana yang terletak di desa Petandakan, Kabupaten Buleleng pada tahun 2017 ini merencanakan untuk membangun Altar Buddha Parinibbana. Pada tahun 2015 umat telah menyelesaikan perehaban Dharmasala dan pada tahun 2016 telah memindahkan bangunan bale kulkul.

Guru Agama Kurang, LP Maarif NU Kritisi Pemerintahan Jokowi

Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) mengkritisi pemerintah lantaran di sekolah saat ini kekurangan guru agama hingga 21 ribu. Ketua Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU), Arifin Junaidi mengatakan, kekurangan guru di sekolah tersebut muncul lantaran pemerintahan Jokowi kurang peduli terhadap pendidikan agama Islam. "Iya (pemerintah kurang peduli), pemerintah lebih mementingkan yang lain. Kalau pemerintahan Jokowi serius dengan revolusi mental maka pendidikan agama harus memperoleh perhatian berlebih," ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (4/7). Ia mengatakan, kekurangan guru agama dapat berdampak besar terhadap pembekalan agama dan pembentukan karakter generasi bangsa. Karena itu, kata dia, pemerintah perlu mempercepat pengangkatan guru agama. "Tentunya dampaknya besar sekali. Jadi kalau misalnya kurang guru agama, sekolah-sekolah itu tidak bisa berjalan dengan baik, tentang pelajaran agama-agama Islam. Jadi sebenarnya kita juga masih butuh penambahan jam pelajaran agama Islam," ucapnya. Ia menambahkan, salah satu hal yang menyebabkan kurangnya guru agama di sekolah tersebut yaitu karena minimnya pengangkatan guru agama sebagai PNS. Ia membantah jika kekurangan guru tersebut karena disebabkan oleh kurangnya minat guru terhadap pelajaran agama.  "Jadi tidak benar kalau ini dikaitannya dengan turunnya minat menjadi guru agama," kata Arifin.

LEBARAN TOPAT: KERUKUNAN UMAT ISLAM DAN HINDU DI LOMBOK

Foto dari guidelombok.com
Hari ini, 2 Juli 2017, Minggu (bulan purnama keenam tahun Saka, yakni seminggu setelah Idul Fitri, selesai menunaikan puasa sunnah bulan Syawal) di seluruh pulau Lombok dirayakan Lebaran Topat atau Perang Topat (ketupat) sebagai syukur peringatan ulang tahun dan untuk memohonkan hujan dan kemakmuran. Hari Raya ini berasal dari adat Sasak kuno dan tetap dilaksanakan setelah penyebaran agama Islam di pulau baik umat Muslim Sasak walaupun orang Bali Hindu. Salah satu tempat upacara teristimewa adalah Pura Lingsar, tempat kerukunan umat Islam dan Hindu di Lombok (namanya berarti Suara air dalam bahasa Sasak). Berikut kami petikan bahan dari laman id.lombokindonesia.org tentang tempat itu.
 Mengujungi Pura Lingsar akan memberikan pandangan baru pada Anda, tentang keharmonisan serta kerukunan umat beragama. Bersumberkan laman id.lombokindonesia.org, bagi masyarakat Pulau Lombok, Pura Lingsar merupakan simbol kerukunan bahkan keharmonisan antar umat beragama, yaitu antara Hindu Bali-Lombok dengan Islam Sasak-Lombok. Pura Lingsar dibangun sekitar tahun 1714 oleh seorang pendatang dari Bali. Keberadaan Pura Lingsar yang sekarang telah mengalami banyak renovasi.
 Sebelum Anda memasuki area bagian dalam Pura Lingsar, Anda akan melewati sebuah taman dan kolam kembar yang dipenuhi dengan teratai. Di area dalam, Pura Lingsar terbagi menjadi tiga bangunan utama. Yaitu Gaduh, Kemaliq dan Pesiraman. Gaduh merupakan tempat suci bagi umat Hindu. Di area ini Anda akan menemui empat percabangan yang melambangkan Dewa-dewa yang menghuni dua gunung. Percabangan yang mengarah ke Timur adalah tempat pemujaan untuk dewa yang menghuni Gunung Rinjani. Sedangkan yang mengarah ke Barat adalah tempat pemujaan untuk dewa yang menghuni Gunung Agung. Ditengah percabangan ini ada dua persinggahan yang menyatu (gaduh) dan merupakan gabungan kedua percabangan tersebut.
 Jika Anda menuruni anak tangga yang berada di depan Gaduh, Anda akan menemui pintu masuk Kemaliq. Bangunan ini merupakan tempat suci bagi pemeluk Islam Wetu Telu. Namun pemeluk Hindu juga diperbolehkan beribadah di tempat ini.
 Di area Kemaliq ini, terdapat sebuah kolam kecil yang dihuni oleh Ikan Tuna. Ikan-ikan ini dianggap suci oleh masyarakat setempat. Menurut mitos, ikan-ikan tersebut merupakan jelmaan dari tongkat milik Datu Milir, seorang raja Lombok yang berdoa di tempat ini untuk memohon hujan. Masyarakat Hindu dan Islam Wetu Telu percaya bahwa jika Anda melihat Ikan Tuna tersebut, Anda akan mendapatkan keberuntungan. Anda bisa membawa sebuah telur rebus jika Anda ingin melihat ikan ini. Di kolam tersebut Anda juga bisa menyebutkan permohonan, serta melemparkan koin ke dalam kolam dengan tujuan agar permohonan Anda akan terkabul.
 Di sisi lain seberang dinding, Anda akan menemui sembilan pancuran. Empat buah pancuran masih berada di area Kemaliq, sedangkan lima lainnya berada di area Pesiraman. Pesiraman merupakan tempat untuk membasuh dan menyucikan diri. Air dari pancuran-pancuran tersebut dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Foto dari thelangkahtravel.com