Agama asli

PANDUAN ALIRAN DAN ORGANISASI KEPERCAYAAN INDONESIA ASLI

Kepercayaan asli (Penghayat kepercayaan) adalah istilah generalisasi resmi untuk sejumlah praktik dan jamaat keagamaan di Indonesia yang mengikuti tradisi-tradisi gaib asli (murni dan sinkretis). Kepercayaan ini sebagai agama orang Austronesia primitif berdominasi di seluruh Nusantara sebelum masuk agama-agama asing (Hindu, Buddha, Khonghucu, Kristen dan Islam). Salah satu kepercayaannya telah menghilang dan hidup hanya dalam mitologi, dongeng-dongeng serta adat istiadat setempat (seumpama orang Melayu, Aceh, Sasak, Kupang) atau termasuk dan berubah ke agama-agama baru (seumpama Hindu Bali, Dayak dan Bugis, Islam Maluku, Kristen Toraja dan Minahasa, dll), begitu orang Minahasa masih melaksanakan tarian dan nyanyian Maengket yang pada zaman dulu ada upacara petikan padi termasuk kesurupan demi Dewi bumi Lumimu'ut serta Dewi padi Lingkanwene, dan orang Sasak Muslim merayakan Lebaran Topat adat. Tetapi, masih ada orang-orang beragama kepercayaan asli yang cukup murni atau sistem-sistem kepercayaan gabungan (sinkretis) yang ke tingkat yang lebih besar atau lebih kecil sudah diimplikasi oleh agama lain. Yakni Kepercayaan Papua, Marapu Sumba, Kebatinan/Kejawen dan Samin Jawa, Sunda Wiwitan, Parmalim Batak dan mungkin lain-lain. Aliran-aliran Kepercayaan asli masih belum diakui Pemerintah sebagai agama, tapi tidak dilarang dan ada Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dan Tradisi dalam struktur Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementarian Pendidikan dan Kebudayaan yang kini daftar hampir 300 organisasinya. Sejak Th 2016 aliran-aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa diajar di sekolah. Contoh dari organisasi yang bertujuan perjuangan untuk eksistensi serta meningkatkan keberadaan kepercayaan asli di Indonesia ialah Badan Kerjasama Organisasi-Organisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa (BKOK), Gerakan Kemerdekaan Berketuhanan Yang Maha Esa, dan Dewan Adat Papua (DAP). (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)

Upacara orang Minahasa (Facebook.com/Minahasa-240558286052574)

Lebaran topat, Langsir Lombok (www.guidelombok.com)

SUNDA WIWITAN
Sunda Wiwitan (Jatisunda, Buhun): Adalah agama Sunda tradisional masih laksanakan di beberapa kelurahan pegunungan Kendeng, Banten dan Jawa Barat antara lain: Cigugur (Kuningan), Ciptagelar (Sukabumi), Sindang Barang (Bogor), Ciparay (Bandung), Kranggan (Jati Sampurna, Bekasi), wilayah sub-suku Sunda yang Urang Kanekes (Baduy) di Lebak dan Pandeglang (khususnya 3 desa Kanekes Dalam yang disebut Tanah larangan), dll. Kerajaan Sunda Tarumanagara di Jawa Barat (Th 358-669) pernah menjadi salah satu negara Hindu tertua di Nusantara, lantaran itu agama Sunda mengisikan unsur-unsur Hindu. Salah satu tokoh gerakan agama Sunda Pangeran Madrais (1832-1939, nama disingkat dari Muhammad Rais), bangsawan kesultanan dari Keraton Gebang, semula muslimin, nanti berpaling ke agama tradisional, sekira pada th 1885 pembentuk jemaah pertama dari gerakan keagamaan dan sosial Igama Djawa Soenda Pasoendan di Cigugur, putranya Tedjabuana kelak berdirinya gerakan kembali dengan nama Agama Djawa-Sunda (ADS alias Madraisme) di Cigugur pada th 1948 yang telah dilarang pada th 1964; cucunya Pangeran Djatikusuma mendirikan badan "Paguyuban Adat Cara Karuhun Urang" (PACKU) di th 1981 sebagai kelompok kepercayaan yang sudah di th 1982 dilarang. Sub-suku Kanekes punya kaum pendeta Pu'un. Kitab Suci bernama Sanghyang siksakanda ng Karesian (Buku berisi aturan untuk menjadi resi) disimpan dalam manuskrip Th 1518. Menurutnya dan legenda-legenda Sunda, Tuhan Tertinggi ialah Sang Hyang Kersa (Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Menghendaki) atau Gusti Nu Maha Suci, manifestasinya yang bernama Batara Tunggal, Batara Jagat dan Batara Seda Miskala (Yang Gaib), dari Dia menjadi semua dewa-dewi (Siwa, Brahma, Wisnu, Indra, Yama, Sri, Sunan Ambu (Dewi Ibu). Tempat-tampat sucinya (kabuyutan) antara lain: Candi Cangkuang, Arca Domas, punden berundak tua, rumah Pangeran Madrais di Cigugur (Gedung Paseban Tri Panca Tunggal). Perayaan terbesar ialah Seren Taun (Tahun Baru) dengan korban nasi untuk Dewi Pwah Aci (atau Nyai Pohaci) Sanghyang Asri (Sri) dan suaminya Kuwera, Dewa kemakmuran, izin resmi untuk upacara ini hanya dapat dilaksanakan pada th 2006 seusai sekali di th 1978. (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Adat Karuhun Urang (AKUR) (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Seren Taun Sunda, Cigugur (www.foto.kompas.com)

Di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur (www.megawatiinstitute.org)

Kaum muda Sunda Wiwitan (www.crcs.ugm.ac.id)

PARMALIM
Parmalim (Ugama/ agama Malim): Aliran kepercayaan asli dengan unsur-unsur agama Hindu, pengikutnya sebagian suku Batak Toba dengan pusat di desa Huta Tinggi, Kec, Laguboti, Kab. Toba Samosir, Sumatera Utara; sesepuhnya adalah mantan Raja Imam terakhir Sisingamangaraja XII (1845-1907), pahlawan nasional RI, yang dihormati bagai inkarnasi Batara Guru atau Debata Asi Asi (Siwa) yang salah satu dari Trimurti Debata na Tolu; nama Tuhan Tertinggi ialah Debata Mula Jadi Na Bolon; juga menyembah arwah-arwah leluhur; kitab-kitab suci utama ialah Kitab Batara Guru dan Kitab Debata Sorisohaliapan; upacara khusus yang disembah di bilan pertama (Sipaha sada) dan bulan kelima (Sipaha limam) dipimpin oleh Raja Naipospos, persembahyanan mingguan setiap hari sabtu, diharamkan memakan daging babi; saat ini, aliran Permalim belum diakui secara resmi di Indonesia, tapi didaftar beberapa organisasinya. (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
► Ugamo Parmalim Budaya Adat Batak
► Golongan Si Raja Batak Parbaringin Malim Marsada
► Ugamo Bangso Batak (UBB) (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Upacara Parmalim Sipaha Lima, Hutatinggi (www.medanbisnisdaily.com)

Upacara Parmalim (www.bataktoday.com)

MARAPU
Marapu: Kepercayaan asli orang Sumba. Mereka beragama kepada Mawulu Tau-Majii Tau (Tuhan yang Maha Esa), Umbu-Rambu (Dewa-Dewi), arwah-arwah leluhur (bahasa Sumba: Marapu) dan arwah lain. Tuhan juga bernamai Ina Bai-Ama Bokulu (Ibu Agung dan Bapak Besar), Ina Nuku-Ama Hera (Ibu Hukum dan Bapak Cara) dan La Hupu Ina-La Hupu Ama (Ibu Segala Ibu dan Bapak Segala Bapak).Menurut itu, roh dalam semua makhluk hidup harus kembali kepada Mawulu Tau-Majii Tau, tetapi mampu ini roh suci, dewa (ndiawa atau ndewa) yang didewakan dari jiwa (hamangu) dalam tumbuh. Para Marapu adalah perantara manusia dengan surga dan telah menerima nuku hara (hukum dan cara). Upacara yang terutama dibuat di rumah persekutuan dan di luar oleh para ratu (pendeta), membuat patung-patung Marapu dan lingga-yoni (babi ialah korban terutama). Mantra-mantra suci yang lisan. Desa-desa masyarakat Marapu antaranya kampung Raja kota Waingapu (ibukota kab. Sumba Timur), Prailiu, Lambanapu, Mauliru, Pau, Praiyawang, Watuhadang, Kaliuda dan Umalulu. (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Marapu (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Tanduk Kerbau, Waikabubak Sumba (www.flickr.com)

Upacara Kalango, Kalimbu Kuni Sumba


KEJAWEN
Kejawen (Kebatinan): Salah satu kepercayaan asli sinkretis orang Jawa. Sistem ini menggabung unsur-unsur rohaniah Tasawuf Islam, Hindu-Buddha (begitu, di rumah mengabdikan tempat suci Pasrean kepada Dewi Sri) serta praktik Jawa primitif (tempat suci dan jin setempat). Kata ''batin'' dari bahasa Arab berarti jiwa, sesuatu dalam, terpendam, rohaniah. Yakni para guru Kebatinan beraksen pada bukan seremoni luar di masjid, tapi meditasi dan tapa-tapa dalam lain untuk penyatuan kembali dengan Tuhan, yaitu menemui Tuhan dalam diri. Terutama praktik ini seperti Zikir Tasawuf dan Yoga. Banyak pengikut aliran ini masih menghormati dewa-dewi Jawa-Hindu-Buddha sebagai manifestasi Tuhan (seumpama Kanjeng Ratu Kidul). Begitu dari sepasang Sang Hyang Tunggal serta Dewi Rekatawati menjadi Trimurti dari Sang Hyang Maha Punggung, Sang Hyang Ismaya (Semar) dan Sang Hyang Manikmaya (Batara Guru). Batara Guru sebagai awatara Batara Siwa punya isteri, sakti Dewi Uma (Parwati), dan 7 anak, antarnya Batara Sambu, Brahma dan Wisnu. Dewi Kanjeng Ratu Kidul telah merupakan pelindung dan pasangan spiritual para sultan Mataram dan kemudian Surakarta serta Yogyakarta, begitu juga tari Bedhaya Ketawang (artinya Penari Langit) menggambarkan curahan asmara Dewi kepada sultan. Menurut kisah, salah satu guru Tasawuf pertama, Syekh Siti Jenar (Syekh Lemah Abang) yang mengajar tentang Batin berkonflik dengan para guru Islam. Sejak awal abad ke-20 Kebatinan mulai mendirikan badan-badan. Mungkin gagasan sila pertama dari Pancasila oleh Presiden RI pertama Soekarno terhadap Ketuhanan berasal dari Kebatinan. Presiden RI yang kedua M. Soeharto jujur menamai diri sebagai pengikut Kebatinan. Pada Th 1956 didirikan Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) di Surakarta sewaktu Kongres ke-2 oleh para wakil dari banyak sekali organisasi (Kongres ke-1 terjadi pada Th 1955 di Semarang), dalam kenyataan yang aktif s/d Th 1962. Pada Th 1956 Departamen Agama berjumlah 63 sekte di Jawa, termasuk himpunan-himpunan Kebatinan, saat ini berdasarkan catatan Kemendikbud - 184 organisasi. Umat-umat itu didaftar sebagai Himpunan Penghayat Kepercayaan oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) menginduk pada Kejaksaan Agung. Aliran ini berada khususnya di antara orang Jawa Abangan dan sering bersamaan dengan pelajaran pencak silat, pewayangan, yoga, paranormal, dsb. (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
 Paguyuban Warga Hardo Pusoro
■ Komunitas Pelajar Kawruh Jiwa (Kawruh Begja)
■ Paguyuban Kawruh Jawa Jawata
■ Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan (PPK) SUBUD Indonesia (Subud)
■ Paguyuban Sumarah
■ Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)
■ Persatuan Warga Sapta Darma (PERSADA)
■ Paguyuban Penghayat Kapribaden
■ Sanata Dharma Majapahit dan Pancasila (Sadhar Mapan)
■ Padepokan Lemah Putih (Amerta)
■ Gantharwa 
■ Kejawen Maneges
■ Perguruan Kebatinan MAKDUM SARPIN (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)

Meditasi oleh PERSADA (www.saptadarma.org)

Tari Bedhaya Ketawang, Surakarta (www.khazanahindonesia.lpsn.org)

SAMANISME
Samin, atau Wong Sikep adalah gerakan agama dan semula anti-penjajahan antikekerasan damai; pendirinya, Ki Samin Surosentiko (1859-1914), nama aslinya Raden Kohar, petani dari desa Ploso Kedhiren, Randublatung, mulai mengajarkan pada Th 1889 di desa Bapangan, Blora, Jawa Tengah, dan pada 1907 ditangkap dan dibuang ke Padang bersama delapan orang pengikutnya, di mana kemudian meninggal. Dalam th. 1914-1920-an gerakan mengepalai Samat yang membiarkan perjuangan bersenjata. Menurut ajarannya Sedulur Sikep ada Adi Roh Esa serta Nabi Adam, harus jujur secara ketat, berkawin tanpa poligami dan pertanian, dilarang membayar pajak dan berdagang; kitab suci ialah Serat Jamus Kalimasada dalam bentuk puisi tembang bahasa Jawa ngoko. Saat ini agama ini masih hidup terutama di pegunungan Kendeng (kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur) di Blora, Kudus, Pati, Rembang and Bojonegara, tapi khususnya di 3 desa: Klopoduwur (Blora), Sugih Waras (Bojonegoro) dan Baturejo (Pati). (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Paguyuban Sedulur Sikep Samin Runggal Roso (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Kaum Samin (www.tjepoesarangnaga.com)


KOMUNITAS EDEN
Komunitas Eden (Agama Salamullah): Kepercayaan baru pribumi yang sinkretis dan semacam Islam; penyabda ini seorang wanita, Paduka Bunda Lia Eden (lh.1947, nama asli Lia Aminuddin) dari keluarga Muslim di Makassar Sulawesi, mengaku Mahdi, Mesias, jelmaan Bunda Maria (putranya jelmaan nabi Isa), sejak th. 1995 menurut Beliau di Jakarta diterima wahyu melalui Malaikat Jibril/Rohul Kudus yang kelak jadi suaminya di Sorga (Eden), Beliau penulis buku "Perkenankan Aku Menjelaskan Sebuah Takdir" serta lagu-lagu; Nabi Muhammad mengakui nabi terakhir, toh tiap-tiap agama dianggap benar (kecuali syirk primitif seperti di antar kaum Kejawen) dan mahaguru lain seperti Buddha, Yesus Kristus dan Kwan Im akan muncul kembali di dunia; kitab suci adalah Al-Hira (gabungan dari isi Alkitab, Al Quran dan Weda); berpusat di Jakarta, Komunitas dikepalai oleh Bunda serta Imam Besar (Bahan oleh Dr. Igor Popov, LLM)
Komunitas Eden (www.komunitaseden.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar