Tradisi Ngerebong (Ngurek) dengan keris di Bali tgl 25 Sep 2016

Ngerebong ataupun Ngurek salah satu tradisi yang ada di Bali yang dilakukan umat Hindu tepatnya di Pura Pangrebongan, Desa Kesiman, Denpasar. Menumpukan diri pada laman wisata.balitoursclub.com, selain tradisi unik lainnya oleh tetangga dekatnya di desa Sesetan yang dikenal dengan upacara omed-omedan, ternyata di Denpasar memiliki warisan budaya dari nenek moyang yang prosesi pelaksanaanya masih tetap digelar sampai sekarang ini (kini jatuh pada besok Minggu tanggal 25 September 2016, - catatan oleh Dr. Igor Popov).
 Ngerebong dalam bahasa daerah setempat berarti berkumpul, sehingga pada saat ngerebong ini diyakini saat berkumpulnya para Dewa. Tradisi ini dirayakan setiap 6 bulan, penaggalan kalender Bali yakni pada hari Minggu/ Redite Pon, wuku Medangsia. Wisata Bali memang tidak melulu hanya berkunjung menikmati pemandangan alam indah, ataupun menyaksikan pementasan atau pameran seni. Tetapi juga yang berupa tradisi unik seperti Ngerebong ini, wajib anda saksikan. Apalagi anda seorang photographer bisa membidikkan lensa kamera anda pada saat moment berlangsung tentu akan menarik. Awal dari rangkaian upacara ini, umat melakukan persembahyangan bersama pada siang hari menjelang prosesi ngerebong digelar, pembukaan diawali dengan penyisiran jalan oleh petugas pecalang yang merupakan petugas keamanan tradisional dan juga oleh polisi. Kemudian warga mengarak Barong yang merupakan perlambang kebaikan bagi masyarakat/ umat Hindhu dan diarak menuju Pura Pengerebongan, umat juga keluar dari Pura mengelilingi wantilan sebanyak tiga kali. Sebagai masyarakat yang mengikuti ritual ini mulai kerasukan/ trance ada yang berteriak, menangis, menggeram dan menari dengan diiringi musik tradisional beleganjur. Saat kerasukan, warga yang sedang kerasukan melakukan tindakan sangat berbahaya, yakni menghujamkan keris di dada, leher bahkan ubun-ubun, namun mereka tidak ada yang terluka, meskipun telah dihujamkan keris berkali-kali, kekuatan magis dari roh yang menguasai mereka memang membuat mereka seolah-olah kebal tidak terlukai oleh senjata. Kerasukan ataupun kerauhan bisa terjadi pada siapa saja yang terlibat dalam ritual ini.
 Tradisi Ngurek juga disebut Ngunying, dibeberapa pura lainnya di pulau Dewata, diwajibkan untuk melaksanakan ritual ini dan dipercaya sebagai manifestasi dari pengabdian kepada Ida sang Hyang Widi Wasa. Upacara selesai setelah Pemangku (pemimpin upacara) menyiratkan tirta/ air suci ke warga yang sedang kerauhan, dan mengijinkan roh yang menempati badan kasar manusia kembali ke alamnya.
Ngerebong di Kesiman (sumber foto: wisata.balitoursclub.com)

Komentar

Pos populer dari blog ini

KERUKUNAN UMAT HINDU DAN ISLAM DI PURA LINGSAR LOMBOK

Patung Buddha di Vihara Tanjung Balai Pecinan Digusur Karena Dianggap Menghina Agama Islamis

Festival Hindu Kaharingan ke-8 Provinsi Kalimantan Tengah